Februari 22, 2011

Paracetamol / Acetaminophen


Sebut saja nama sebuah obat demam panas atau obat flu, pasti isi utamanya adalah paracetamol. Paracetamol adalah zat berkhasiat yang terkandung dalam ratusan obat flu, sakit kepala dan penurun panas yang iklannya sering muncul di pelbagai media. Paracetamol tersedia dalam bentuk tablet, sirup dan juga suppositoria. Di Indonesia sering terdapat dalam resep racikan anak.

Paracetamol/ Acetaminophen disebut obat yang relatif aman bila digunakan sesuai aturan penggunaan. Ini dapat dilihat dari usia edarnya di dunia yang telah melebihi 50 tahun, dan belum tergeserkan oleh penemuan obat baru lainnya. Paracetamol tetap banyak digunakan karena efek sampingnya dianggap lebih ringan dibandingkan obat penurun panas lain. Paracetamol aman bagi wanita hamil dan menyusui. Sebagai penurun panas paracetamol berhasil menyingkirkan kinin yang berasal dari tanaman kina yang mendominasi obat penurun panas (juga obat malaria) pada tahun lima puluhan, dan juga mendesak penggunaan aspirin sebagai obat penurun panas.

            Paracetamol disintesa tahun 1873, dan baru tahun 1955 dipasarkan secara masal di Amerika Serikat dengan nama Tylenol, dan mulai dijual di Inggeris tahun 1956 dengan nama Panadol. Setelah hak patennya berakhir tahun 1984, ribuan merek dagang obat mengandung paracetamol beredar di dunia. Di Indonesia saat ini tak kurang 200 merek obat mengandung paracetamol mengisi rak apotik dan toko obat. Obat yang mengandung Paracetamol antara lain Panadol, Biogesik, Tempra, Decolgen, Paratusin dan sebagainya.
Tidak seperti aspirin, paracetamol aman dikonsumsi oleh anak-anak karena tidak dapat menyebabkan Reye’s syndrom pada anak. Reye’s syndome adalah penyakit fatal yang dapat menyebabkan kerusakan pada banyak organ di dalam tubuh, terutama otak dan hati, serta dapat menyebabkan hipoglikemia. 

Deskripsi:
Parasetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik / analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik Parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik.
Pada penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonyugasi.
 
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot. Serta menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi.

Efek Samping :
Efek samping dari paracetamol yang paling umum adalah mual. Jika alergi terhadap obat ini juga dapat mengakibatkan sakit tenggorokan, bintik-bintik di mulut dan bibir, ruam pada kulit atau gatal-gatal. Efek samping paling serius dan jarang terjadi antara lain munculnya gejala penyakit hati seperti mata kuning atau kulit menguning, dan infeksi perut sehingga mengakibatkan urin dan tinja berdarah. Jika salah satu efek samping ini terjadi, maka hubungi dokter Anda untuk pemperoleh perawatan kesehatan segera. 

Apabila dikonsumsi bersamaan dengan alkohol serta digunakan secara berlebihan, paracetamol akan mengakibatkan kerusakan pada hati serta resiko komplikasi penecernaan seperti pendarahan lambung. Akan tetapi, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa paracetamol tidak dapat menyebabkan kerusakan hati walaupun digunakan bersamaan dengan alkohol serta dikonsumsi dalam jangka waktu panjang.

Pada bulan Juni 2009, sebuah komite penasihat FDA merekomendasikan bahwa penggunaan paracetamol harus dibatasi untuk membantu melindungi pasien dari efek racun potensial dari obat ini. Namun, hingga bulan Maret 2010, FDA belum mengimplementasikan rekomendasi ini. Berikut alasan pembatasan penggunaan paracetamol yang pernah diajukan oleh FDA: -Penggunaan dosis tinggi (lebih dari 2.000 mg per hari) dari paracetamol dapat meningkatkan resiko komplikasi gastrointestinal bagian atas seperti pendarahan perut atau lambung. – Sebuah studi menunjukan bahwa pada tahun 2008, penggunaan jangka panjang pada anak-anak (usia 6 sampai 8 tahun) saat demam, dapat menimbulkan efek samping berupa peningkatan gejala asma, rhinoconjunctivitis (peradangan pada mata) serta eksim. -Penggunaan yang berlebihan akan menyebabkan kerusakkan hati dan ginjal, dimana toksisitas berasal dari salah satu metabolitnya, yaitu N-Asetil-P-Benzoquinoneimine (NAPQI). – Salah satu dari efek samping yang paling berbahaya adalah hepatotoksisitas, yang mana merupakan penyebab paling umum dari gagal hati akut. – Kebiasaan penggunaan paracetamol untuk mengurangi rasa sakit pada seseorang, akan membuat tingkat ketahanan seseorang untuk merespon rasa sakir berkurang.

Cara Kerja :
Aksi/kerja utama paracetamol adalah dengan cara menghambat sintesis prostaglandin di pusat otak (hipotalamus), tetapi tidak di perifer (jaringan), sehingga tidak mempunyai efek sebagai anti inflamasi. Paracetamol mampu meringankan/ menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi susunan syaraf pusat dan tidak menimbulkan ketagihan.Walau relatif aman, tidak berarti paracetamol dapat ditelan semaunya. Pemakaian paracetamol berbulan-bulan secara rutin dalam dosis yang tinggi cenderung menghasilkan kerusakan hati. Efek samping lain adalah reaksi hipersensitif dan kelainan darah.(AK)

Dosis:
Dosis umum untuk orang dewasa adalah 500 mg sampai 1000mg setiap empat jam serta dikonsumsi tidak lebih dari 10 hari. Anda tidak boleh mengkonsumsi obat ini lebih dari delapan tablet atau kapsul dalam sehari. Seperti obat-obatan lainnya, paracetamol tidak harus digunakan dalam jangka panjang kecuali di bawah pengawasan dokter.
Untuk anak dibawah 1 tahun:
60 – 120 mg, tiap 4 – 6 jam.
Untuk anak usia 1 – 5 tahun:
1 – 2 sendok teh atau 120 – 250 mg, tiap 4 – 6 jam.
Untuk anak usia 6 – 12 tahun:
2 – 4 sendok teh atau 250 – 500 mg, tiap 4 – 6 jam.
Untuk anak usia  diatas 12 tahun:
Sampai 1 g tiap 4 jam, maksimum 4 g sehari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar